Sifat Dasar Pelumas


Views:
BY Anonymous
0 COMMENTS
Sifat Dasar Pelumas

Viskositas

Viscositas adalah  ukuran kemampuan fluida menahan untuk tidak mengalir yang terutama disebabkan oleh gesekan internal dalam fluida. 

Kekentalan membentuk ketebalan lapisan yang diperlukan untuk memisahkan dua permukaan yang relatif bersentuhan. Kekentalan harus diupayakan sesuai dengan kebutuhan. Tidak terlalu kental untuk mengurangi hambatan gerak. Tidak terlalu encer supaya mempunyai lapisan yang cukup.






Pengukuran Viskositas dilakukan melalui dua metode yaitu :
  • Viskositas Kinematik
Viskositas kinematik d iukur dengan parameter waktu alir suatu fluida dari titik A ketitik A�. Satuan  kinematic viscosity adalah centi Stoke (cST)

Kinematic Viscosity
  •  Dynamic Viscosity
Dynamic viscosity diukur dengan cara mengukur basarnya tahanan (torsi) ketika silinder berputar dalam pelumas. Satuan dynamic viscosity adalah centi Poise (cP).

Dynamic Viscosity
Viscositas atau kekentalan merupakan factor penentu pada pembentukan ketebalan lapisan film baik lapisan tipis maupun lapisan tebal. Viscositas yang relatif terlalu tinggi dibanding dengan viscositas yang dibutuhkan mengakibatkan : meningkatkan temperatur, Kehilangan tenaga pada operasi bearing, silinder dan roda gigi karena faktor gesekan internal fluida yang tinggi.

Viscositas yang tinggi mempunyai kemampuan menyekat (sealing ability) yang baik serta konsumsi pelumas yang rendah. Kentalan menentukan mudah/sulitnya mesin dihidupkan pada temperatur ambien yang berbeda, terutama temperatur ekstra dingin atau dipagi hari. Keberhasilan operasi mesin dan peralatan sangat ditentukan oleh kekentalan pelumas pada temperatur operasi yang diperkirakan.

Viskositas Index

Viskositas Index (VI) adalah Ukuran sensitifitas/kestabilan kekentalan suatu fluida terhadap temperatur. Makin tinggi VI makin kecil perubahan kekentalan akibat berubahnya temperatur. VI dihitung dari harga viscositas pelumas pada dua temperatur standar yaitu 100 C dan 40 C.

Contoh perbandingan VI Lube Oil MultiGrade dan MonoGrade

Flash Point

Flash Point adalah temperatur terendah dimana uap fluida yang bercampur dengan udara dapat terbakar. Flash point mengindikasikan adanya komponen yang mudah menguap atau mudah terbakar. Used oil dengan Flash point rendah mengindikasikan terjadinya kontaminasi bahan bakar. Flash point digunakan pada pengiriman fluida atau kaitan dengan safety regulations dalam penetapan flammable and combustible materials.

Pour Points

Pour Point adalah temperatur paling rendah dimana pelumas masih bisa mengalir ketika didinginkan secara bertahap. Pour Point umumnya digunakan untuk quality control dan untuk meyakinkan pelumas dapat dioperasikan pada temperatur rendah.

TBN (Total Base Number)

TBN menunjukkan jumlah senyawa-senyawa yang bersifat basa yang ada dalam pelumas. Dinyatakan dalam jumlah berat (mg) senyawa basa Kalium Hydroxide (KOH).

TBN berasal dari additive detergent. TBN merepresentasikan kemampuan untuk menetralisir asam hasil dari pembakaran dan Kemampuan menjaga kebersihan mesin. Selama digunakan pelumas harus tetap memiliki nilai tertentu untuk memastikan kemampuan menetralisir asam.

Umumnya batasan penurunan TBN maksimum yang masih diperkenankan adalah 50%dari nilai TBN pada pelumas baru (fresh oil). Makin tinggi kadar Sulfur Bahan Bakar yang digunakan makin tinggi angka TBN pelumas yang digunakan. TBN= 20x Sulphur Content BBM.

TAN (Total Acid Number)

TAN adalah ukuran jumlah senyawa asam, baik asam kuat maupun asam lemah. Mengindikasikan terjadinya terjadinya proses oksidasi dalam operasi pelumasan. TAN dipengaruhi oleh : Konsentrasi dan jenis additive, moisture content, panas, dan umur oli.

Demulsibility

Demulsibility adalah kemampuan memisahkan air dari pelumas (lawannya adalah emulsibility). Mesin diesel kecepatan menengah-sedang yang dilengkapi dengan sistem purifikasi membutuhkan pelumas yang memiliki kemampuan demulsibility untuk memisahkan air. Demulsibility umumnya digunakan untuk quality control dan jarang digunakan untuk analisa pelumas bekas.

Foaming Characteristics

Foaming terjadi bila ada udara dalam jumlah tertentu yang terperangkap dalam pelumas. Foaming bergantung pada kualitasnya base oil mempunyai foaming karakteristik yang berbeda. Panambahan aditif anti-foam penting untuk mencegah foaming. Foaming yang berlebihan pada pelumas bekas dapat disebabkan oleh kontaminasi: air, kotoran, debu, dll. Foaming test umumnya digunakan untuk quality control dan jarang digunakan untuk analisa pelumas bekas.

kegunaan additive antifoam


0 comments:

Post a Comment